Membangun Komunikasi Positif pada Anak

Dr. Hj. Yusrita Yanti
Dr. Hj. Yusrita Yanti (KLIKPOSITIF/Welly Adia)

KLIKPOSITIF - Terampil dalam berkomunikasi tidak semudah dibayangkan. Kita tahu bahwa komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian informasi apa saja kepada mitra tutur kita. Komunikasi antara ibu dan anak perlu dibina dan dilatih sejak  dini, mulai dari dalam kandungan seorang ibu sudah melakukan dialog dengan calon bayinya, kemudian setelah lahir komunikasi ibu dan anak terus menerus dilakukan secara positif pada usia dini, remaja,  sampai dewasa.

Komunikasi positif tentu saja dilakukan bukan oleh ibu semata tapi juga ayah, nenek, kakek, dan saudara-saudara dimana anak tumbuh kembang. Namun, yang paling dekat dengan anak tentu ibu, ayah, nenek atau kakek, serta pengasuhnya.

Sehubungan dengan itu, orang-orang terdekat perlu mendidik anak dengan pola komunikasi positif. Pendidikan komunikasi positif pada anak penting dilakukan agar anak terlatih  untuk mengetahui mana yang baik dan tidak, sehingga tidak asal bicara yang dapat menimbulkan kerusuhan, percekcokan. Seorang anak haruslah diberitahu dan dibina untuk  mempertimbangkan apa, siapa, dimana, dan untuk apa dia berbicara.

Baca Juga

Jika tidak, perilaku kasar cenderung berkembang membentuk karakter anak dan bisa berakibat buruk, lebih ekstrimnya kepribadian yang brutal akan terbangun sendirinya. Apakah kita sebagai orang tua akan diam? Umumnya kalau sudah terjadi kasus baru kita kalang kabut,  tercambuk dan tersadar untuk mencarikan solusinya.

Baru-baru ini kegiatan Seminar Parenting diadakan oleh Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Barat, sebagai salah seorang narasumber penulis menyampaikan sejumlah straegi dalam melakukan komunikasi positif dengan anak khususnya pada usia dini. Menurut pakar komunikasi dan linguis sejumlah strategi komunikasi positif ini dianggap efektif dalam membangun karakter dan kepribadian anak.

Tak bisa dipungkiri, kebanyakan dari kita sebagai orang tua sering melakukan komunikasi negatif kepada anak, misalnya berbicara pada anak dengan cara  mengkritisi, menyalahkan, menghakimi, menceramahi,  memerintah,  atau mengancam anak (Kamu harus juara ya.., kamu tidak boleh pulang malam, kalo kamu nakal kamu tidak mama belikan boneka, denger ya… itu perbuatan tidak baik.. kamu jangan seperti itu.. bla..bla..). Kemudian kita sering berbicara sama anak sambil jalan, berpaling, tidak fokus, malah sering menyindir-nyindir, menujukan bahasa tubuh tidak sabar, bosan, tidak menantap anak, kurang memuji keberhasilan anak, sering mengatakan “Tidak boleh atau Jangan begini.. Jangan begitu..…” (Kamu tidak boleh main keluar.. kamu tidak boleh ini.. itu.. Jangan kamu lakukan ini.. itu..).

Itulah contoh komunikasi negatif yang tanpa sadar sering dilakukan pada anak. Apa yang terjadi kalau kebiasaan ini terus dilakukan? Anak cenderung merasa disalahkan sehingga tidak berani mengungkapkan isi hatinya, anak akan menjadi pendiam bahkan akan bertindak diam-diam melakukan sesuatu tanpa diketahui ibu/keluarga sehingga membentuk karakter tidak jujur karena terbiasa berbohong. Bagaiman cara mengatasi hal ini?

Komunikasi positif merupakan satu cara dalam penyampain pesan dan informasi dengan menggunakan strategi logis dan kesantunan berbasis konteks yang ada pada saat komunikasi berlangsung. Komunikasi positif sangat penting dalam membangun karakter keluarga yang kuat. Artinya, penggunaan kata-kata yang tepat dengan penuh perhatian, dan kepedulian, belajar menjadi pendengar aktif (Active Listening) dalam berkomunikasi, menggunakan suara yang tenang, lembut, nyaman, dan bersahabat sehingga anak dapat merespons dengan baik dan positif.

Ada 11 strategi komunikasi positif yang dapat dipraktekan ketika berkomunikasi dengan anak: (1) Gunakan komunikasi verbal (kata-kata) efektif dengan prinsip kesantunan, (2)  Tidak boleh atau minimalisir penggunaan kata “TIDAK BOLEH/JANGAN”, (2) Gunakan kata-kata yang TIDAK meremehkan, menyalahkan, mencap, mengancam, menyindir, menceramahi, mengkritik, membanding-bandingkan, (3) Gunakan bahasa tubuh yang mencerminkan kesabaran, (4) Gunakan kata-kata Pujian dan Komunikasi 4 A (Attention, Assimilation, Adaption, Action), (5) Gunakan Pertanyaan Terbuka (open questions), tidak tertutup, (6) Berpikir sebelum bicara, jangan langsung membuat kesimpulan, (6) Lakukan diskusi bukan berdebat, (7) Bicara Singkat, Padat  dan Tersenyum   (KISS: Keep It Simple and Smile), (8) Kembangkan sikap objektif, (9) Saling menghargai/pertimbangkan hubungan vertikal & horizontal), (10) Menolak membahas kekurangan orang lain (No Gossip), (11) Kembangkan topik yang bersifat positif.

Rasanya tidak ada kata terlambat untuk mau mengubah diri dan melakukan hal yang lebih baik. Sejumlah strategi positif ini dianggap mampu membangun tindak tutur positif yang akan menyemai jati diri anak dalam membangun karakter positif . Harapan ke depan tentunya, Smart Parents- Smart Children, Smart Communication - Smart Nations. Semoga!

Editor: Elvia Mawarni