Sejarawan: Krisis Intelektual Sumbar Capai Puncak Setelah PRRI

"Krisis intelektual tak hanya terjadi di Sumbar tapi juga merata di seluruh Indonesia. Hal ini terjadi tak lepas dari sikap rezim pemerintahan yang berkuasa saat itu."
Pidato kebudayaan 'Dinamika Sejarah Intelektual Sumatera Barat' yang diadakan Pusat Studi Humadiora Universitas Andalas, Rabu, 18 Mei. (KLIKPOSITIF/Satria Putra)

KLIKPOSITIF - Sejarawan kelahiran Bukittinggi Taufik Abdullah menyatakan bahwa krisis intelektual di Sumatera Barat mencapai puncaknya setelah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) meletus.

"Hal itu semakin diperparah di era pemerintahan Soekarno dan Soeharto yang tak memberi ruang bagi tumbuhnya intelektual-intelektual baru," ujarnya saat menyampaikan Pidato Kebudayaan bertema 'Dinamika Sejarah Intelektual Sumatera Barat' yang diadakan Pusat Studi Humadiora Universitas Andalas, Rabu, 18 Mei.

Menurutnya, krisis intelektual tak hanya terjadi di Sumbar tapi juga merata di seluruh Indonesia. Hal ini terjadi tak lepas dari sikap rezim pemerintahan yang berkuasa saat itu.

"Saya telah memprediksi soal kebodohan ini yang akhirnya menyebabkan minimnya kelahiran intelektual sejak 15 tahun lalu. Sekarang, prediksi saya ini terbukti. Ilmuwan kita yang banyak sekarang ini, harus mengubah cara berpikirnya agar bisa jadi seorang intelektual," kata Ketua LIPI periode 2000-200 itu.

Saat ini, ia melanjutkan, yang baru tumbuh di Indonesia termasuk Sumbar adalah kalangan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Ilmuwan, ia menjelaskan, secara umum melihat dari kacamata fakta yang terjadi. Sedangkan intelektual, menggali fakta jadi sebuah cerita sehingga jadi referensi untuk berbagai pihak.

Pidato kebudayaan 'Dinamika Sejarah Intelektual Sumatera Barat' merupakan persiapan pendirian Museum Wartawan Martias Pandoe, di Puncak Lawang, Kabupaten Agam. Marthias Dusky Pandoe (lahir di Lawang, Matur, Agam, 10 Mei 1930 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 9 Mei 2014 pada umur 83 tahun) adalah seorang wartawan senior Indonesia yang berkarya untuk Harian Kompas sejak tahun 1970 sampai pensiun pada tahun 1998.

[Satria Putra]