Kisah Perjuangan Sujinah Penjual Gethuk Demi Berangkat Haji

"Saya mendaftar dari tahun 2010 dan tahun ini akhirnya berangkat"
Sujinah, penjual gethuk di Nganjuk yang kini naik haji. (Kemenag/MCH)

KLIKPOSITIF -- Haji adalah panggilan, demikian orang bijak sering mengatakan. Pesan ini bisa dipahami juga sebagai haji bukan urusan kekayaan dan kemampuan finansial, tapi kemauan karena memang sudah mendapat panggilan.

Jadi, jemaah haji tidak selalu harus kaya harta. Bisa saja mereka adalah orang yang kaya niat dan mendapat panggilan Yang Maha Esa. Labbaikallahumma Labbaik… Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah.

Seperti dikutip dari laman Kementerian Agama, Senyum mengembang di bibir Sujinah saat berbagi kisah tentang perjuangan hidupnya hingga bisa berangkat haji di usianya yang sudah 60 tahun. Selasa (01/08) siang, Sujinah baru pulang salat Zuhur berjamaah di Masjid Nabawi. Tiba di Madinah pada Minggu, 30 Juli 2017, dia kini tengah menjalani prosesi Arbain atau salat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi.

Sambil antri lift untuk kembali ke kamar hotel, jemaah yang tergabung dalam kloter 5 Embarkasi Surabaya (SUB 05) ini kembali merenda ingatan tentang kehidupan puluhan tahun silam. "Saya mendaftar dari tahun 2010 dan tahun ini akhirnya berangkat. Alhamdulillah," kata Sujinah mengawali kisahnya di Hotel Mawaddah Annur, tempat dia dan rombongannya tinggal.

Sujinah berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Berhaji sudah menjadi cita-citanya sejak lama, meski dia sadar kalau dirinya bukanlah orang berpunya. Karenanya, dia harus menabung, menyisihkan sebagian hasil kerja kerasnya jualan gethuk di pasar tradisional Primbon, Nganjuk.

Sedikit demi sedikit, uang itu ditabung hingga merentang waktu sampai 10 tahun. Maklum, sebagai penjual gethuk, tiwul dan makanan tradisional berbahan dasar singkong ini penghasilannya tidak seberapa, pun juga tidak menentu.

Namun, Sujinah berusaha istiqamah dalam menabung. Uang hasil jualannya sebagian ditabung, sisanya untuk makan. Kadang ia setor ke bank dua pekan sekali sebesar Rp 200 ribu. "Setorannya tak menentu, tergantung hasil jualan dapat berapa," ... Baca halaman selanjutnya