Tak Ada Publikasi Internasional, Tunjangan Guru Besar Dipotong

"Anggaran Riset Indonesia Masih Rendah"
Dirjen Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Dimyati ketika menjadi pemateri dalam Seminar dengan Tema “Peraturan dan Arah Kebijakan Baru Kemenristekdikti Menuju PTS Bermutu,” di UPI Convention Centre, Selasa 9 Mei 2017. (Hijrah Adi Sukrial)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Mulai November 2017, setiap guru besar dan lektor kepala yang tidak punya publikasi internasional akan dievaluasi. Salah satu bentuk evaluasinya adalah pemotongan tunjangan kehormatannya.

Hal di atas disampaikan Dirjen Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Dimyati ketika menjadi pemateri dalam Seminar dengan Tema “Peraturan dan Arah Kebijakan Baru Kemenristekdikti Menuju PTS Bermutu,” di UPI Convention Centre, Selasa 9 Mei 2017.

Pada seminar yang dilaksanakan bertepatan dengan Pelantikan Pengurus Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah X Sumbar periode 2017-2021 itu, M Dimyati memaparkan,  guru besar dan lektor seakan lupa bahwa mereka punya tugas tridharma perguruan tinggi.

Untuk itu, para guru besar dan lektor kepala harus disadarkan. Salah satu cara menyadarkannya adalah dengan mengevaluasi guru besar dan lektor kepala yang tidak melakukan riset dan penelitian serta tidak punya publikasi internasional.

Meski begitu, Dimyati menjelaskan, evaluasi tidak akan sampai pada pencopotan gelar guru besar dan lektor kepala. Sebab, dengan pemotongan tunjangan kehormatan saja menurutnya efeknya sudah sangat besar. “Seorang guru besar yang punya wibawa, kalau tunjangan kehormatannya dipotong, akan mengganggu kredibilitasnya, seolah-olah tidak dihormati,” ujarnya.

Nilai pemotongan tunjangan kehormatan guru besar dan lector kepala yang tidak publikasi internasional menurut Dimyati akan diatur dalam petunjuk teknis. “Diharapkan aturan ini dapat menggenjot atau merangsang para guru besar dan lektor kepala untuk terus melakukan riset dan publikasi internasional,” jelas Dimyati.

Lebih jauh Dimyati memaparkan, dari tahun 2007-2016 daya saing Indonesia mengalami naik turun. Salah satu faktor masih rendahnya daya saing Indonesia menurutnya adalah karena masih rendahnya riset dan pengembangan di ... Baca halaman selanjutnya